Recent

JK Peringatkan Bahaya Pelebaran Defisit APBN di Atas 3 Persen

 


ARUSPOLITIK.COM | Jakarta
 – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), mengeluarkan peringatan terkait rencana pemerintah yang berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga melebihi batas aman 3 persen. Ia menekankan bahwa peningkatan defisit akan berdampak langsung pada membengkaknya beban negara dalam membayar cicilan dan bunga utang.


"Risikonya, proporsi utang terhadap anggaran akan semakin besar. Jika utang membengkak dari batas maksimal ideal 40 persen menjadi 50 persen, hal itu sangat membahayakan keberlanjutan keuangan negara," ujar JK di kediamannya, Jakarta Selatan, Minggu (15/3/2026).


Meski demikian, JK memahami bahwa menjaga defisit di bawah 3 persen saat ini adalah tantangan berat, terutama karena tekanan kenaikan harga minyak dunia. Ia memperingatkan bahwa defisit yang melebar akan mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk membiayai pembangunan.


"Kapasitas membangun justru mengecil. Ini yang harus dibenahi," tegasnya.


JK juga menyoroti aspek lain, yaitu menurunnya alokasi Transfer ke Daerah (TKD) yang saat ini hanya sekitar 17 persen. Menurutnya, kondisi ini akan membahayakan kualitas infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan di daerah.


"Pemerintah harus memperhatikan bahwa daerah adalah fondasi negara," imbuhnya.


Wacana pelebaran defisit ini mengemuka di tengah gejolak ekonomi global. Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah skenario yang memproyeksikan defisit APBN bisa mencapai 3,18 persen hingga 4,06 persen, dipicu kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.


Menanggapi situasi ini, Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya untuk mengkaji langkah penghematan ala Pakistan, yang memangkas gaji pejabat dan menerapkan kebijakan work from home (WFH). Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum mendapatkan informasi resmi mengenai wacana tersebut. Ia mencontohkan, secara global batas defisit 3 persen yang dijaga Indonesia sebenarnya lebih rendah dibandingkan negara lain seperti Vietnam (sekitar 4 persen) atau India (5-6 persen), serta negara maju seperti AS, Korea Selatan, dan Jepang.

0 Komentar