Recent

Analisis Politik: Manuver Saiful Mujani, dari “Pembuat Raja” Ganjar-Mahfud ke Provokator Anti-Prabowo

 


ARUSPOLITIK | Saiful Mujani, pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataannya yang viral di acara halal bihalal “Sebelum Pengamat Ditertibkan” pada akhir Maret 2026. Ia secara terbuka mengajak masyarakat “mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo”, bukan sekadar mengkritik atau menasihati. Pernyataan itu kini berujung laporan pidana ke Polda Metro Jaya dengan dugaan penghasutan.
Tapi siapa yang tak kenal Saiful Mujani? Sebelum menjadi “aktivis anti-Prabowo” di era 2026, ia adalah figur yang selama Pilpres 2024 kerap dianggap sebagai salah satu “pembuat narasi kemenangan” Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Survei-survei SMRC yang dirilisnya berulang kali menempatkan pasangan nomor urut 3 itu di posisi unggul, terutama di basis-basis penting seperti Jawa Timur.
Data Survei SMRC yang “Sering Memenangkan” Ganjar-MahfudPada September 2023, SMRC merilis survei telepon di Jawa Timur yang menunjukkan Ganjar-Mahfud unggul telak: 45 persen, jauh di atas Prabowo-Erick Thohir (28 persen) dan Anies-Muhaimin (12 persen). Hasil serupa berulang di beberapa rilis SMRC lainnya. Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad, berulang kali menyatakan bahwa Ganjar-Mahfud memiliki “peluang besar lolos ke putaran kedua” bahkan “masih berpeluang menang meski tanpa dukungan Jokowi”.
Pada Agustus 2023, SMRC juga mencatat Ganjar mengalami kenaikan elektabilitas hingga 10,4 poin dalam dua tahun. Di kalangan pemilih kritis, Ganjar sempat unggul 35,9 persen atas Prabowo 32,8 persen. Narasi yang dibangun SMRC saat itu jelas: Ganjar-Mahfud adalah pasangan paling kompetitif, paling “rekam jejaknya solid”, dan paling berpotensi melanjutkan legacy Jokowi.
Bagi sebagian kalangan pendukung Ganjar, survei-survei itu menjadi amunisi politik. Bagi pihak lawan, itu dilihat sebagai upaya “membuat opini” yang sistematis untuk mengangkat Ganjar. Saiful sendiri, sebagai pendiri dan wajah SMRC, kerap tampil di media sebagai pengamat yang “netral” namun datanya konsisten memenangkan Ganjar di wilayah-wilayah strategis.
Dari Survei ke Lapangan: Manuver yang Konsisten?Kini, setelah Prabowo-Gibran menang telak di Pilpres 2024 dan resmi menjadi presiden, Saiful Mujani berubah haluan. Bukan lagi melalui survei, melainkan lewat ajakan langsung “konsolidasi untuk menjatuhkan” penguasa. Ia bahkan menyatakan bahwa “menasihati Prabowo tidak akan jalan” dan satu-satunya cara menyelamatkan bangsa adalah dengan menjatuhkannya.
Ini bukan sekadar perubahan retorika. Ini adalah manuver politik klasik seorang pengamat yang selama ini lebih berperan sebagai “king maker” daripada analis netral. Ketika kandidat yang surveinya ia unggulkan kalah, ia tidak mundur ke posisi analis independen, melainkan naik level menjadi aktor politik oposisi yang lebih frontal.
Beberapa analisis politik menyebut pola ini sebagai “frustrasi pasca-kalah”. Ganjar-Mahfud yang selama setahun penuh “dibuat menang” di banyak rilis SMRC akhirnya hanya meraup suara kecil di hampir semua provinsi (kecuali Papua Tenggara). Alih-alih merefleksikan bahwa survei mungkin terlalu optimistis atau ada faktor lain (seperti dukungan Jokowi yang berpindah), Saiful memilih jalur konfrontatif: dari “membuat narasi kemenangan” menjadi “mengonsolidasikan kekalahan”.
Motif di Balik ManuverAda tiga kemungkinan motif yang masuk akal:
  1. Konsistensi ideologis oposisi — Saiful memang bagian dari kelompok yang sejak awal tidak nyaman dengan kemenangan Prabowo. Survei pro-Ganjar hanyalah alat untuk menghambat laju Prabowo. Ketika gagal, ia beralih ke cara ekstra-parlemen.
  2. Posisi sebagai “pembela demokrasi” — Dengan membingkai kritik sebagai “sikap politik” (bukan makar), Saiful ingin tetap dianggap sebagai intelektual publik yang menjaga ruang demokrasi. Namun bagi kritikus, ini hanya pembelaan klasik ketika ucapan sudah masuk ranah provokasi.
  3. Strategi personal dan institusional — SMRC sebagai lembaga survei kehilangan “momentum” setelah Prabowo menang. Dengan menjadi figur kontroversial, Saiful kembali relevan di panggung nasional, meski kali ini bukan lewat angka survei melainkan lewat pernyataan yang mengguncang.

Provokator atau Kritis?Manuver Saiful Mujani menunjukkan satu hal yang jelas: ia bukan sekadar pengamat yang pasif. Ia adalah aktor politik yang cerdas dalam memainkan narasi. Dulu ia “membuat” Ganjar-Mahfud sering menang di survei. Kini ia berusaha “membuat” Prabowo sering diserang di ruang publik.Pertanyaannya bukan lagi apakah ia berhak mengkritik — tentu berhak. Tapi apakah cara yang dipilihnya (ajakan konsolidasi untuk menjatuhkan presiden terpilih) masih dalam koridor kritik konstruktif atau sudah masuk wilayah destabilisasi?
Demokrasi memang butuh kritik keras. Tapi ketika kritik itu datang dari figur yang dulu “membuat” kandidatnya sendiri kalah, lalu beralih menjadi provokator, publik berhak bertanya: ini murni keprihatinan, atau sekadar manuver politik yang gagal diubah menjadi strategi baru?Kasus Saiful Mujani bukan hanya soal satu orang. Ini cermin bagaimana sebagian elite pengamat politik Indonesia masih kesulitan menerima hasil pemilu yang tidak sesuai narasi yang mereka bangun sendiri.

0 Komentar