Recent

Kekacauan Barbar di UGM: Mahasiswa Gagal Diskusi, Andalkan Intimidasi dan Ocehan Kosong

 


Berita24ind.com | Yogyakarta – Suasana yang semula dirancang sebagai forum diskusi terbuka di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada berubah menjadi arena anarki dan intimidasi pada Senin malam. Sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan diri Aliansi Mahasiswa UGM melakukan penggerudukan kasar terhadap para narasumber, termasuk Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Budiman Sudjatmiko.
Alih-alih menyajikan data, fakta, atau argumentasi yang matang, para demonstran hanya mampu melontarkan teriakan emosional, bualan tanpa dasar, serta ocehan yang tak bermakna. Mereka naik panggung secara brutal, membentangkan spanduk provokatif, dan memaksa acara yang telah mendapatkan izin resmi dari pihak kampus itu dihentikan paksa. Bahkan, laporan menyebutkan adanya pelemparan air, desakan fisik, hingga dugaan tindakan pemukulan terhadap salah satu narasumber.
Wamentan Sudaryono yang datang dengan niat baik untuk berdialog terbuka mengungkapkan kekecewaannya. “Kami siap mendengar kritik dan memverifikasi setiap klaim mereka. Tapi yang terjadi justru penindasan dan intimidasi,” ujarnya. Para narasumber yang seharusnya diberi kesempatan menyampaikan pandangan malah menjadi korban teror verbal dan fisik dari kelompok yang mengaku mewakili “suara mahasiswa”.
Ironisnya, mahasiswa UGM yang selama ini dikenal sebagai bagian dari kampus bergengsi ternyata menunjukkan ketidakmampuan mendasar: tak mampu menyajikan satu pun data atau fakta yang kredibel. Hanya ada slogan-slogan basi, tuduhan tanpa bukti, dan aksi kekerasan yang jauh dari nilai akademik. Alih-alih diskusi yang intelektual, yang muncul adalah perilaku barbar yang menindas kebebasan berpendapat orang lain.
Aksi ini mencerminkan kemunduran toleransi dan kedewasaan berpikir di kalangan sebagian mahasiswa. Ketika narasumber berusaha melanjutkan dialog secara damai dengan duduk lesehan di luar, mereka tetap dihadapkan pada desakan dan ancaman. Bukan dialog yang diinginkan, melainkan penyerahan mutlak dan pembungkaman.
Peristiwa ini menjadi catatan hitam bagi dunia pendidikan Indonesia. Di tengah harapan agar kampus menjadi ruang rasional dan beradab, sebagian mahasiswa UGM justru memilih jalan anarkisme, kekerasan, dan intimidasi. Mereka bukan hanya gagal menyumbang gagasan, tetapi juga menunjukkan wajah anti-demokrasi yang sebenarnya: hanya mau didengar, tapi tak mau mendengar.
Kasus ini sepatutnya menjadi introspeksi mendalam bagi civitas academica UGM. Apakah universitas kebanggaan bangsa ini masih mampu mendidik generasi yang rasional, atau hanya memproduksi massa emosional yang siap menindas atas nama “kritik”?

0 Komentar