Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran Gelar Diskusi "Nasionalisme di Zaman Kita", Perkuat Budaya Dialog dan Semangat Kebangsaan
BERITA24IND.COM | CIANJUR – Semangat kebangsaan dan budaya dialog kembali digaungkan melalui kegiatan Diskusi Terbuka bertajuk "Nasionalisme di Zaman Kita" yang digelar di Lapangan Parkir Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, Desa Nagrak, Kabupaten Cianjur, Minggu (28/6/2028). Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan lintas elemen masyarakat untuk membahas tantangan nasionalisme di tengah perkembangan zaman.
Diskusi menghadirkan Dr. H. Tom Maskun, M.Pd., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, sebagai narasumber utama. Acara dipandu oleh Tedi Subarkah, sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran sekaligus eksponen Gerakan Mahasiswa 1998.
Sekitar 70 peserta hadir dalam forum tersebut yang berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya mahasiswa Al Azhar Cianjur, Universitas Suryakancana Cianjur, tokoh adat dari Bandung, perwakilan Generasi Z Cicalengka, pengrajin tradisional Cianjur, pelajar, Perguruan Silat Dharma Saputra Putu Dewatar, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur, hingga perwakilan masyarakat adat Bali. Suasana diskusi semakin kental dengan nuansa budaya melalui penampilan musik Kecapi Suling khas Cianjur yang dibawakan oleh Divisi Seni Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran.
Dalam paparannya, Tom Maskun menegaskan bahwa nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui simbol-simbol kebangsaan, tetapi juga melalui upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai identitas bangsa.
"Salah satu bentuk nasionalisme adalah mempertahankan seni dan budaya tradisional sebagai pilar kebudayaan nasional. Di sisi lain, kalangan intelektual, khususnya mahasiswa, perlu menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara utuh. Sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari demokrasi, namun akan lebih bernilai apabila diwujudkan melalui kajian akademik yang bermetodologi ilmiah serta diperkuat dengan pengabdian kepada masyarakat," ujar Tom Maskun.
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi melalui gagasan, riset, dan solusi terhadap berbagai persoalan kebangsaan.
Sementara itu, Tedi Subarkah menilai ruang-ruang dialog yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat saat ini semakin terbatas, terutama di tingkat daerah. Karena itu, forum semacam ini diharapkan dapat menjadi wadah memperkuat literasi kebangsaan sekaligus membangun budaya diskusi yang sehat.
"Dialog terbuka lintas elemen masyarakat sudah mulai jarang dilakukan. Padahal, di tengah dinamika global yang semakin kompleks, ruang seperti ini penting untuk membangun tradisi berpikir kritis, saling mendengar, dan menghadirkan edukasi yang positif bagi masyarakat," katanya.
Diskusi berlangsung interaktif ketika peserta dari kalangan mahasiswa mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai tata kelola pemerintahan yang baik, implementasi nilai-nilai universal Pancasila, hingga strategi menghadapi dampak negatif penggunaan media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Tedi menjelaskan bahwa nilai-nilai universal Pancasila telah tercermin dalam perjalanan diplomasi Indonesia melalui politik luar negeri bebas aktif, semangat Gerakan Non-Blok, serta Konferensi Asia Afrika 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung.
Ia juga menekankan bahwa penyelenggaraan pemerintahan yang baik harus berlandaskan nilai-nilai adaptif, inklusif, serta dilandasi tanggung jawab terhadap tugas dan fungsi masing-masing dengan tetap berpijak pada jati diri budaya bangsa. Menurutnya, prinsip tersebut sejalan dengan konsep Tri Sakti Bung Karno, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Momentum penyelenggaraan diskusi yang bertepatan dengan Bulan Bung Karno juga menjadi pengingat pentingnya terus mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bentuk implementasi nasionalisme di tingkat akar rumput, Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran juga memperkenalkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, mulai dari pertanian, peternakan, hingga pengelolaan limbah organik dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pupuk organik, pakan ternak, dan produk lain yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.
Menurut penyelenggara, berbagai aktivitas produktif tersebut merupakan bagian dari praktik nasionalisme yang diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Di penghujung kegiatan, para peserta menyepakati bahwa forum diskusi bertajuk "Nasionalisme di Zaman Kita" perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan, baik di lingkungan kampus maupun ruang-ruang publik lainnya. Melalui dialog yang terbuka dan berbasis kajian akademik, diharapkan lahir berbagai gagasan konstruktif yang mampu memperkuat karakter kebangsaan, mempererat persatuan, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan bangsa.

0 Komentar