Recent

El Niño Mencapai Puncak, Indonesia Bersiap Hadapi Kemarau Makin Kering dan Risiko Karhutla

 


BERITA24IND.COM | JAKARTA — Indonesia sedang memasuki fase yang patut diwaspadai. Fenomena El Niño bergerak menuju puncak intensitasnya ketika sebagian besar wilayah Indonesia juga berada pada periode puncak musim kemarau.

Kombinasi keduanya membuat ancaman kekeringan semakin nyata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan akan semakin jarang turun dalam beberapa waktu ke depan, terutama di wilayah yang sedang berada dalam fase puncak kemarau.

Dalam laporan terbarunya, BMKG menyebut kondisi El Niño saat ini telah berada pada fase kuat dan Indonesia berpotensi menghadapi kondisi yang semakin kering. CNN Indonesia melaporkan sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia telah terdampak kondisi kekeringan yang berkaitan dengan fenomena tersebut.

Agustus Menjadi Bulan yang Perlu Diwaspadai

Agustus bukan sekadar bulan perayaan kemerdekaan bagi Indonesia tahun ini. Dari sisi iklim, bulan ini juga menjadi salah satu periode paling penting dalam menghadapi musim kemarau.

BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Puncak terluas diperkirakan terjadi pada Agustus, yang mencakup sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia.

Situasinya menjadi lebih kompleks karena El Niño berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.

BMKG memprediksi El Niño dapat bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Namun, dampak terbesarnya terhadap Indonesia diperkirakan terjadi ketika fenomena tersebut bertemu dengan musim kemarau.

Artinya, masyarakat tidak cukup hanya bersiap menghadapi udara panas. Persoalan yang lebih serius berada di baliknya: air yang semakin terbatas, lahan yang mengering, dan meningkatnya potensi kebakaran.

Hujan Makin Jarang, Kekeringan Mengintai

Musim kemarau tahun ini diperkirakan tidak berjalan seperti biasanya.

BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 437 Zona Musim atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia diproyeksikan mengalami periode kemarau yang lebih panjang.

Hingga pertengahan Juli, lebih dari separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Dalam kondisi seperti ini, hujan bukan berarti benar-benar menghilang. Beberapa daerah masih dapat mengalami hujan lokal. Namun, secara umum, frekuensinya semakin rendah dan distribusinya tidak merata.

BMKG memperkirakan hujan dengan kategori tinggi baru mulai meningkat secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Ancaman Karhutla Ikut Membesar

Ketika tanah kehilangan kelembapan dan vegetasi mengering, satu persoalan lain ikut muncul: kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

El Niño bukan satu-satunya penyebab kebakaran. Namun, kondisi kering yang ditimbulkannya dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api ketika kebakaran terjadi.

Sejumlah wilayah seperti Sumatra dan Kalimantan menjadi perhatian karena memiliki kawasan yang rentan terhadap karhutla. CNN Indonesia juga melaporkan bahwa para pakar melihat El Niño dapat mempercepat kebakaran, meskipun faktor manusia tetap menjadi bagian penting dalam munculnya titik api.

Karena itu, ancaman tahun ini bukan sekadar soal suhu udara yang terasa lebih panas. Kekeringan dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan, kesehatan, pertanian, hingga ketersediaan air.

Bukan Hanya Petani yang Perlu Bersiap

Dampak kemarau panjang tidak berhenti di sektor pertanian.

Berkurangnya curah hujan dapat menekan ketersediaan air baku. Sektor energi juga perlu mengantisipasi dampak terhadap pembangkit listrik tenaga air, sementara masyarakat di daerah rawan kekeringan perlu bersiap menghadapi kemungkinan berkurangnya sumber air.

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan. Pergeseran pola hujan dapat memengaruhi jadwal tanam dan meningkatkan risiko gagal panen apabila kebutuhan air tidak terpenuhi.

BMKG karena itu mendorong berbagai sektor untuk menyesuaikan strategi dengan kondisi iklim yang berkembang, termasuk melalui penguatan mitigasi dan Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah prioritas.

El Niño 2026 Bisa Bertahan hingga 2027

Ada satu hal yang membuat situasi tahun ini perlu mendapatkan perhatian lebih panjang.

BMKG memperkirakan El Niño dapat bertahan hingga awal 2027. Bahkan, intensitasnya diproyeksikan dapat melampaui kategori kuat. Kondisi tersebut berpotensi diperparah apabila Indian Ocean Dipole (IOD) positif berkembang pada September hingga Desember 2026.

Meski demikian, bukan berarti seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan ekstrem sepanjang periode tersebut.

Dampak El Niño sangat bergantung pada kondisi lokal, pola atmosfer, serta fase musim di masing-masing wilayah. Karena itu, peringatan dini dan informasi cuaca regional tetap menjadi rujukan penting.

Indonesia Tak Bisa Hanya Menunggu Hujan

El Niño pada akhirnya bukan sekadar istilah yang muncul dalam laporan cuaca.

Ia dapat diterjemahkan menjadi persoalan yang sangat sehari-hari: sumur yang mengering, sawah yang kekurangan air, meningkatnya risiko kebakaran, hingga kualitas udara yang memburuk.

Karena itu, memasuki puncak kemarau Agustus 2026, kesiapsiagaan menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menunggu hujan kembali turun.

Pemerintah perlu memastikan ketersediaan air dan memperkuat pencegahan karhutla. Masyarakat juga perlu menggunakan air secara bijak dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di kawasan rawan.

Sebab ketika El Niño bertemu puncak musim kemarau, persoalannya bukan lagi sekadar apakah hari ini terasa panas.

Pertanyaannya adalah: seberapa siap Indonesia menghadapi bulan-bulan ketika hujan semakin jarang datang?

0 Komentar