Sumber Air Menyusut, BNPB Sebut Pemadaman Karhutla Makin Sulit
BERITA24IND.COM| Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kendala karena sumber air mulai menyusut dan semakin jauh dari titik kebakaran. Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman membutuhkan penyesuaian strategi, termasuk penguatan operasi darat dan udara.
Karhutla masih menjadi salah satu bencana yang dominan dilaporkan BNPB pada periode 22–23 Agustus 2026. BNPB mencatat kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, sementara pemerintah daerah dan petugas gabungan terus melakukan pemantauan serta penanganan di lapangan.
BNPB menyebut berkurangnya sumber air menjadi salah satu persoalan dalam operasi pemadaman. Sumber air yang tersedia mulai menyusut sehingga jaraknya dari lokasi kebakaran semakin jauh, sementara kondisi lapangan juga menyulitkan akses menuju sejumlah titik api.
Selain keterbatasan air, operasi pemadaman juga menghadapi kendala akses darat. Angin kencang turut menjadi faktor yang menyulitkan penggunaan helikopter untuk operasi water bombing, sehingga strategi penanganan harus disesuaikan dengan kondisi meteorologis dan lokasi kebakaran.
BNPB mengoptimalkan sejumlah metode penanganan, antara lain operasi pemadaman darat, patroli udara, water bombing, serta operasi modifikasi cuaca sesuai kondisi atmosfer. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas dan mempercepat pengendalian titik api.
Dalam laporan situasi pada 23 Agustus 2026, BNPB menyatakan karhutla masih mendominasi kejadian bencana yang dilaporkan di sejumlah daerah. Salah satu kasus terjadi di Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, dengan area terdampak mencapai 673,4 hektare. Hingga 22 Agustus malam, seluruh titik api di lokasi tersebut dilaporkan telah dipadamkan.
Karhutla lainnya dilaporkan terjadi di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Kebakaran yang terjadi di Desa Batu Raja, Kecamatan Wasile, pada 22 Agustus menghanguskan lahan seluas 2,5 hektare dan berhasil dipadamkan pada hari yang sama. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.
Kondisi cuaca juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Berdasarkan informasi BMKG yang dikutip Kompas.com, curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Dasarian II Agustus hingga Dasarian I September 2026 diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan, pemantauan, deteksi dini, serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana pemadaman selama musim kemarau. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah yang rawan terbakar dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran.
Penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan cuaca. BNPB bersama pemerintah daerah terus memantau titik panas, memetakan wilayah rawan, dan mengoordinasikan langkah penanganan untuk mencegah perluasan kebakaran.
0 Komentar