Recent

Memaknai Sumpah Pemuda di Era Digital, INSS Fasilitasi Diskusi tentang Perang Kognitif dan Ketahanan Bangsa

 


BERITA24IND.COM | CIANJUR – Momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami tantangan kebangsaan di era digital. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Secangkir Kopi, Sejuta Narasi: Membaca Cognitive Warfare dan Peran Pemuda Saat Ini” yang digelar di Sapong Space Kafe, Kelurahan Sawah Gede, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada 28 Oktober tersebut dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai perguruan tinggi, komunitas seni tradisi, dan organisasi kebudayaan. Diskusi ini diinisiasi oleh Student Care Jawa Barat dengan melibatkan Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran serta Intelligence National Securities Studies (INSS).

Forum tersebut menghadirkan M. Rijal Wahid Muharam, M.Pd., akademisi sekaligus pengamat geopolitik Indonesia dari INSS, serta Tedi Subarkah, S.H., praktisi dan analis sosial, budaya, serta adat Nusantara.

Sejumlah mahasiswa yang hadir berasal dari Al-Azhar Cianjur, Universitas Suryakancana, Universitas Putra Indonesia (UNPI), Al-Azami, Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kegiatan ini juga melibatkan pelaku seni tradisi, perwakilan Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, serta Azril P. Budiawan, konten kreator Student Care UPI Bandung.

Cognitive Warfare dan Tantangan Pemuda di Era Digital

Dalam pemaparannya, M. Rijal Wahid Muharam menekankan pentingnya peran pelajar, pemuda, dan mahasiswa dalam mengisi kemerdekaan sekaligus menjaga keberlanjutan masa depan bangsa.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, membentuk opini, serta memandang berbagai persoalan nasional.

Di tengah situasi tersebut, generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perkembangan ekonomi, politik, dan kehidupan sosial Indonesia. Oleh karena itu, penggunaan media sosial perlu disertai kebijaksanaan, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis.

Pemahaman mengenai Cognitive Warfare atau perang kognitif menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam forum tersebut. Konsep ini berkaitan dengan upaya memengaruhi cara seseorang berpikir, memahami informasi, membentuk persepsi, dan mengambil keputusan.

Melalui diskusi ini, peserta diajak memahami pentingnya literasi digital agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi serta mampu berkontribusi dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan.

Mahasiswa Pertanyakan Hoaks dan Kepercayaan terhadap Pemerintah

Diskusi berlangsung interaktif ketika sejumlah mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai cara membedakan berita bohong atau hoaks dengan informasi faktual. Peserta juga membahas tantangan membangun kepercayaan mahasiswa terhadap pemerintah di tengah derasnya arus informasi dan beragam opini di ruang digital.

Menanggapi hal tersebut, Tedi Subarkah menjelaskan bahwa kepercayaan publik tidak dapat dibangun secara instan. Kepercayaan perlu tumbuh melalui pemahaman terhadap substansi kebijakan publik, analisis yang objektif, serta penilaian terhadap manfaat kebijakan bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa sikap kritis dan penyampaian kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik perlu disampaikan dengan landasan intelektual, kaidah ilmiah, dan etika.

Menurutnya, perbedaan pendapat seharusnya menjadi sarana untuk memperkaya perspektif dan memperbaiki kualitas kebijakan, bukan dimanfaatkan untuk menyebarkan disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK).

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun ruang diskusi publik yang sehat, sekaligus menjaga hubungan antara masyarakat, generasi muda, dan pemerintah tanpa menghilangkan kebebasan untuk menyampaikan kritik.

Hoaks dan Disinformasi Dinilai Menjadi Tantangan Persatuan Pemuda

Ketua pelaksana kegiatan, Ade Nurdiansyah, menyampaikan bahwa penyebaran hoaks, disinformasi, fitnah, dan kebencian menjadi tantangan serius dalam menjaga kesatuan cara pandang generasi muda terhadap berbagai persoalan bangsa.

Ia mengapresiasi terselenggaranya diskusi tersebut sebagai salah satu upaya membangun kesadaran kolektif di kalangan pemuda mengenai pentingnya menjaga persatuan Indonesia.

Menurut Ade, momentum Sumpah Pemuda perlu dimaknai lebih dari sekadar peringatan seremonial. Nilai persatuan yang diwariskan para pendahulu bangsa harus terus diwujudkan melalui sikap, perilaku, dan kontribusi nyata generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat.

Diskusi ini diharapkan dapat menjadi ruang bertukar gagasan yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, praktisi, dan pelaku seni budaya untuk membangun pemahaman bersama mengenai tantangan kebangsaan di era digital.

Merawat Kebinekaan dan Merajut Persatuan Indonesia

Menjelang akhir kegiatan, para peserta menyampaikan komitmen untuk menjaga kedaulatan dan persatuan bangsa dengan tetap mengedepankan sikap kritis, empati sosial, kedamaian, serta tanggung jawab intelektual.

Peserta juga menekankan pentingnya menempatkan nilai-nilai kebangsaan sebagai landasan dalam menyikapi perbedaan pendapat maupun dinamika informasi di media sosial.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai Sumpah Pemuda yang menegaskan pentingnya persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan ruang digital secara produktif, mengedepankan fakta, serta membangun dialog yang berlandaskan pengetahuan dan etika.

Kegiatan ditutup dengan seruan bersama, “Merawat Kebinekaan, Merajut Persatuan, Jaga Indonesia.”

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa menjaga Indonesia tidak hanya membutuhkan kesadaran akan ancaman informasi yang menyesatkan, tetapi juga komitmen untuk merawat toleransi, memperkuat literasi digital, dan membangun kehidupan kebangsaan yang damai serta bermartabat.

0 Komentar